Solusi Mengatasi Banjir

Menyambut Hari Lingkungan Hidup dengan Solusi Mengatasi Banjir

 

Dalam rangka menyambut hari lingkungan hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2014, Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB (Dit. KSKP-IPB) bekerjasama dengan Dewan Guru Besar IPB dan Humas IPB mengadakan kegiatan Coffee Morning. Kegiatan Coffee Morning yang mengundang rekan-rekan media massa ini bertujuan untuk mendiseminasikan pemikiran, gagasan dan hasil riset Dewan Guru Besar IPB yang berkaitan dengan sektor lingkungan hidup, khususnya yang menyangkut isu banjir. Menurut salah satu narasumber, Prof. Hadi Susilo Arifin, isu banjir yang saat ini sudah menjadi isu nasional perlu ‘dikawal’ oleh para guru besar IPB melalui pemikiran-pemikiran yang didiseminasikan.

Pada kesempatan ini, ada tiga guru besar yang menjadi narasumber, yakni: 1) Prof. Cecep Kusmana, 2) Prof. Budi Indra Setiawan, dan 3) Prof. Hadi Susilo Arifin. Prof. Cecep Kusmana memberikan pemaparan singkat mengenai Banjir, Tanah Longsor, dan Kekeringan di Indonesia: Permasalahan dan Solusinya. Beliau mengemukakan bahwa kondisi Indonesia sesungguhnya berada di posisi rawan bencana, karena ada di tiga lempeng tektonik dunia dan berada di ring of fire. Selama tahun 2013, berdasarkan data dari BNPB, telah terjadi 525 kasus banjir, 256 kasus tanah longsor, 15 kasus kekeringan dan kasus-kasus bencana lainnya. Menghadapi berbagai bencana yang terjadi, khusunya dalam rangka mengatasi bencana banjir, Prof. Cecep Kusmana menegaskan pentingnya peran hutan dan kaitannya dengan fungsi hidrologis. Prof. Cecep juga mengemukakan bahwa vegetasi memiliki peran nyata dan secara empiris telah terbukti mampu mengatur tata kelola air dan mengurangi resiko tanah longsor. Solusi lain yang juga dipaparkan adalah pentingnya hidup sederhana dan hemat BBM serta perlu adanya kelembagaan dan regulasi yang efektif.

Narasumber kedua adalah Prof. Budi Indra Setiawan yang memaparkan mengenai Zero Run-off System (ZROS) untuk Mengatasi Banjir di Perkotaan, Perumahan, dan Pertanian. Beliau memaparkan bahwa penyebab banjir diantaranya adalah hujan berintensitas tinggi yang tidak mampu dihalau drainase dan keterbatasan kemampuan lahan menyerap air. Bila kawasan tertentu terus dilanda banjir, maka kemungkinan besar drainase yang ada hanya dibuat untuk hujan harian maksimum. Prof. Budi Indra memaparkan bahwa pencegahan banjir seharusnya dilakukan secara sistematik dan terpadu berdasarkan data. Beliau juga mengemukakan bahwa jalan harusnya dikonstruksi agak cembung, sehingga air bisa langsung mengalir ke drainase.  Adapun dalam metode ZROS yang dikembangkan oleh Prof. Budi Indra Setiawan bertujuan untuk meminimalkan limpasan air di permukaan dan genangan air sampai habis dan menyerap air secara maksimal. Limpasan air yang terjadi tidak hanya berpotensi menimbulkan banjir namun juga dapat  menggerus infrastuktur. Oleh karena itu, penting untuk mengantisipasi dan meminimalisir dampak yang mungkin ditimbulkan oleh adanya limpasan air. Mekanisme implementasi ZROS dilakukan melalui konstruksi lubang-lubang serapan berdasarkan data neraca air. Jumlah dan dimensi lubang dihitung berdasarkan neraca air. Dalam praktiknya, ZROS sudah diterapkan di perkebunan pala Aceh, DAS Mojokerto dan sedang dalam rancangan pengembangan di Kampus IPB Dramaga.

Setelah pemaparan-pemaparan dari Prof. Cecep Kusmana dan Prof. Budi Indra Setiawan, narasumber ketiga yakni Prof. Hadi Susilo Arifin memaparkan mengenai Manajemen Ruang Terbuka Biru untuk Pengendali Banjir. Selama ini stakeholder-stakeholder seringkali terpaku dengan konsep RTH (Ruang Terbuka Hijau), namun ada RTB (Ruang Terbuka Biru) yang juga harus diperhatikan. RTB menyoroti potensi badan-badan air, misalnya sungai dan danau. Baiknya, pengembangan RTH berjalan seiring dengan RTB. Adapun mindset masyarakat mengenai RTB juga harus diubah. Dimana ada paradigma masyarakat mengenai water back, sehingga pembangunan rumah di Indonesia cenderung membelakangi sungai dan akhirnya cenderung untuk tidak memperhatikan kebersihan dan keindahan bagian belakang ini. Seharusnya paradigma water back perlu diubah menjadi water front agar masyarakat memberi perhatian lebih kepada sungai. Disamping itu, program-program revitalisasi RTB yang dilakukan pemerintah saat ini fokus terhadap normalisasi sungai, yang dahulu kerap dilakukan oleh Jerman dan Jepang. Normalisasi sungai ini sebenarnya sudah mulai ditinggalkan. Bahkan Jepang saat ini fokus pada naturalisasi sungai, dimana badan sungai tersebut dibentuk seperti semula. Saat ini, contohnya di Sentul, sudah mulai diterapkan pembuatan kelokan pada badan sungai agar air tidak langsung digelontorkan ke laut dan pada kelokan-kelokan tersebut dibuat cascade riverside. Selain membangun cascade river, perwujudan RTB yang baik juga dapat dilakukan dengan menghindari hal-hal sebagai berikut: 1) membangun rumah yang menjorok ke badan air, 2) membangun keramba, 3) paradigma water back, dan 4) membuang sampah industri maupun rumah tangga ke sungai.

Acara coffee morning ini ditutup dengan diskusi antara narasumber dan media massa. Adapun tindak lanjut dari kegiatan yang telah dilaksanakan ini adalah advokasi ide, gagasan, maupun hasil riset ke Walikota Bogor. Semoga gagasan maupun riset yang telah dilaksanakan dan didiseminasikan bisa memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan lingkungan yang saat ini kerap terjadi. (dpl/admin)


Anda dapat menghubungi admin kskp melalui email kskpipb@gmail.com atau telp/fax 0251 8625350

No comments.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.